Suatu hari dalam sebuah diskusi ditemani dengan kopi dengan merk terkenal , dan sambil menggigil kedinginan , karna waktu itu memang musim dingin, teman saya orang Jepang bernama Nakayama mengatakan , “Tuhan itu tidak ada , kita lahir dari alam , dan nanti kembali ke alam. Lalu manusia menentukan usianya sendiri”. Pernyataan yang menurut saya waktu itu adalah , “ini omongannya orang gila!” Ya , tentu saja dia sedikit bercanda karena memang waktu itu kita sedang bercanda, sambil menikmati malam yang dingin , minum kopi dan makan gyuudon buatan tangan Indonesia, yaitu daging sapi yang dimasak dengan bawang Bombay dan dicampur soyu atau kecap asin ala jepang. Dan dengan menggunakan “kutatsu” yaitu meja lesehan ala jepang yang terdapat alat pemanas di bawahnya.
Pernyataan “manusia dapat menentukan usianya sendiri” yang notabene candaan itu tanpa saya sadari membekas ketika dia sudah ijin untuk pulang kembali kerumahnya setelah kita bercengkerama kurang lebih sejam. Saya jadi teringat kebiasaan lain ketika masih kecil dulu , ketika remaja dan beranjak dewasa.
Saat itu , khususnya ketika saya duduk di bangku SD , tanpa sadar saya lebih banyak ngobrol dan bercengkerama dengan seorang tukang es potong yang sudah tua tapi sangat bersemangat sekali dalam berjualan es potong. Dia sering bercerita yang membuat saya tertawa lepas daripada ketika saya bercanda dengan teman – teman saya. Pikir saya waktu itu adalah saya ingin sekali mendengar cerita orang tua yang lain, sehingga saya dapat tertawa lebih lepas lagi. Ya, bisa dimaklumi karena anak – anak dunianya memang selalu mencari sesuatu yang menyenangkan, di luar itu pada waktu yang lain saya juga pernah bahkan sering ngobrol dengan orang yang lebih tua. Tentu tidak ketinggalan ayah saya sendiri. Sering ketika kecil , karna ayah saya adalah seorang sopir angkutan saya diajak keluar kota. Dan tentu dari situ saya banyak ngobrol dengan dengan orang tua yang sebayanya dengan ayah saya. Mereka bercerita mengenai kehidupannya , anggota keluarga , pendidikan dulu dan akhirnya sering keluar juga nasehat – nasehat yang belum tentu didapatkan dibangku sekolah. Karena notabene mereka adalah praktisi kehidupan yang sebenarnya yang perlu diambil ilmunya.
Namun tidak hanya itu saja , selain sering ngobrol dengan orang yang sudah tua atau usianya diatas saya , ketika itu saya juga mempunyai beberapa saudara atau keponakan yang masih balita dan saya juga sering sekali selalu berperan sebagai kakaknya. Alias kakak siapapun yang lebih kecil dari saya. Sering sekali uang tabungan dan uang jajanku aku berikan kepada anak kecil tersebut dan beli jajanan yang disukainya. Tujuanku adalah sederhana , hanya ingin membuatnya tersenyum dan dia kembali mood bermain.
Namun tidak hanya itu saja , selain sering ngobrol dengan orang yang sudah tua atau usianya diatas saya , ketika itu saya juga mempunyai beberapa saudara atau keponakan yang masih balita dan saya juga sering sekali selalu berperan sebagai kakaknya. Alias kakak siapapun yang lebih kecil dari saya. Sering sekali uang tabungan dan uang jajanku aku berikan kepada anak kecil tersebut dan beli jajanan yang disukainya. Tujuanku adalah sederhana , hanya ingin membuatnya tersenyum dan dia kembali mood bermain.
Pada waktu itu mungkin tidak banyak orang memperhatikan apa yang saya lakukan. Saat itu saya suka berkomunikasi dengan orang berbagai umur dan latar belakang. Dari yang berprofesi sebagai tukang es keliling, pegawai pabrik , guru , dan orang yang sukses meraih karirnya. Ketika saya bertemu dengan orang tua yang berprofesi sebagai sopir , salah satunya adalah ketika harus menunggu muatan yang dibongkar selama berjam – jam bahkan seharian penuh, atau nongkrong di bawah pohon sambil menunggu mendapatkan muatan untuk dikirim kesuatu tempat dan mendapatkan upah. Ia akan bercerita tentang pengalamannya menjadi sopir dan hal – hal yang dijalani semasa ia bekerja, Ketika sopir itu mengirim suatu barang di sebuah bos besar. Kita bisa mengetahui apa yang dilakukan bos besar tersebut, seperti apa gaya hidupnya , bagaimana ia mencapai cita – citanya dan membangun perusahaannya.
.Perlu diketahui , semua itu adalah pembelajaran yang sangat berharga. Manusia bisa dan sebaiknya menentukan usianya sendiri. Dalam artian , diawal kehidupannya ia harus sudah mempunyai rencana yang matang tentang masa depannya sesuai apa yang disukainya, seperti apa kehidupannya 5 tahun mendatang atau 10 tahun mendatang bahkan harus menjadi apa Jika Tuhan memberi kita usia sampai 100 tahun. Dan dengan cara diatas akan didapatkan berbagai peralatan untuk menentukan kehidupannya di masa mendatang. Dimasa sekarang ini, banyak sekali orang menjalani kehidupan tanpa tahu apa yang akan dicapai. Kenapa demikian? Hal ini karna ia tidak mendapatkan pengetahuan yang cukup dimasa lalunya. Maka dari itu , kisah seperti hal diatas adalah salah satu cara mempersiapkan masa depan. Orang menjadi tua itu pasti , tapi menjadi dewasa adalah pilihan. Jadi ‘’Menualah ketika muda dan tetap mudalah ketika tua”, artinya ketika muda harus menentukan masadepannya , sehingga seolah olah kita sudah tua yang mana sedang mengalami apa yang ingin kita alami di masa mendatang. Dan ketika usia kita sudah tua , tetaplah berpikir dan bersemangat bertindak untuk menentukan lagi kontribusi kita untuk alam sekitar seperti kita seperti ketika muda yang sedang menentukan masa depannya. Life is never ending learning , you have to learn till the earth smile because the result of something you have learned. Manusia , dihidupkan untuk satu hal ! Menjadi rahmat bagi semesta alam !
Anthony Robbins bilangnya , we have to know WHY WE DO WHAT WE DO ! !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar